Sabtu, 31 Maret 2018


Serangan Pra_Nikah
Oleh : Pipit Era Martina
#Part 1

Semerbak bau melati memenuhi ruang tamu, angin sepoi-sepoi beriringan mendendangkan nyanyian kebahagiaan. Jentik-jentik manis meliuk memperlihatkan keindahan lukisan hena, hiruk pikuk yang sedari tadi meramaikan telinga justru membuat hati semakin serasa sepi.

“kapan nikah?” ahh lagi-lagi ini yang kudapati.
Selamat kamu berhasil jadi muslimah nyebelin yang selalu mengajukan pertanyaan ini, ini dan ini lagi. Secuil pertanyaan yang seketika memekikkan rongga dada, menusuk hingga ke dasar perhentian kata cinta. Tau nggak sih? Pertanyaan seperti ini bagai sambaran petir di siang bolong.

Setiap menghadiri acara pernikahan yang di tanya “kapan nyusul ?” hadiri acara aqiqah di tanya lagi “kapan nikah ?” Hadiri reunipun selalu di tanya perihal pasangan, ahh rasanya inginku berkata kasar, namun apa daya bibir enggan berucap. Hanya di satu tempat dimana tidak sama sekali ku dapati pertnyaan “kapan”, kamu tahu dimana itu? Yaaa... dimana lagi kalau bukan di pemakaman, adakah aku diizinkan untuk bertanya disini? “Kapan kalian mati?”

Ricuh suara burung pipit sedari tadi membuat buyar angan-angan tentang masa depan, membuatku ingin berdiam dalam sangkar agar suaraku tak terdengar. Menceritakan kerinduan pada awan yang terus berlarian, layaknya hatiku yang kian berlari mencari cinta sejati.

“beneran ya kalau aku nikahan pada dateng” ujar nanin yang sedari tadi tersenyum tanpa sebab musabab.
“oke” sahut ku, “ntar kalo nanin nikahan aku bawain sayuran satu mobil dari sekincau khusus buat pernikahan nanin” imbuhku seraya menahan gelak tawa.


“yang bener nanin mau nikah ?” Tanya jenjen yang sedari tadi sibuk dengan kapas alcohol yang di gulung-gulung tak berujung.
“iya beneran lah, lihat geh ekspresinya ketawa-tawa mulu, itu mimik muka bahagia itu” candaku dengan mata melirik ke arah nanin yang sibuk dengan bayangan pernikahan nya sembari tangan terus meliuk melipat baju tak rapi-rapi.
“ihh yang bener nanin? Sama siapa ?” jenjen yang mulai kepo pasang muka 180% penasaran.

“beneran jenjen, sudah siap semuanya itu dari bahan kebaya sampe souvenir” ujar ku yang sengaja membuat kesal dengan selalu menjawab pertanyaan jenjen yang ternyata tak di indahkan oleh nanin.
“beneran jenjen!” akhirnya nanin buka suara, masih dengan senyuman yang sedari tadi tiada usai.
“orang mana nanin?” suara jenjen yang semakin meningkat karena penasaran.
“sini, sini aku kasih tahu siapa dan dimana calon nya nanin” lambaian tanganku mengarah ke jenjen dengan semangatnya.

“nggak ah, nggak percaya aku sama kamu”ucap jenjen yang tak juga bergeming dari tempat duduknya.
“ya allah kok nggak percaya loh, beneran ini. Apapun yang mau kamu tahu tentang nanin 
Tanya sama aku, pasti nemu jawaban” selorohku yang masih dengan nada sumringah.
“gimana sih kalian ini, aku yang ngurus cathering nya masa nggak di kasih tahu, kelewatan kamu orang ini yah” ucap jenjen dengan nada yang sudah mulai sedikit kesal.
“hahahaha, “ akhirnya tawa yang sedari tadi tertahan akhirnya tumpah juga di ruang pengobatan yang hanya berisi kami bertiga.

“beneran kok ni, aku mau nikah. Makanya itu cariin jodohku” kata nanin yang masih sambil menahan gelak tawa.
“bukan calon jodoh, tapi cariin mempelai laki-lakinya. Kalo jodoh mah dateng sendiri” serobot ku.

“yah basinglah apa itu namanya, yang pasti blom ada yang mau saya nikahin” kata nanin yang sudah mulai berhenti tertawa.
“halagh, ku pikir udah beneran ada calon nya. Kalo bener kan bisa nyiapin baju dari sekarang”tutur jenjen yang sepertinya bernada sedikit kecewa.

“ya udah ada atau belom ada calon nya kan nggak ada salahnya kalo nyiapin semua dari sekarang” ujarku dengan nada yang sok dewasa.
“iya iya” anggukan nanin yang penuh dengan gaya sok misterius.
“bener itu, apa salahnya loh kita nyiapin dari sekarang jadi ntar biar nggak stress kalo udah deket-deket”nada jenjen yang sudah kembali normal.
“bener nanin, toh ujung-ujungnya ntar kita juga yang milih baju dan siapin segalanya, pihak laki kan tinggal mengimbangi aja to” ujarku yang masih dengan gaya sok tahu.

“iya besok kita cari bahan kebaya nya yah, sekalian sama souvenirnya” kata nanin dengan mimic yang nggak serius banget.
“hahahaha” tawa kembali pecah seiring terdengarnya adzan maghrib.


Note : Tulisan ini dibuat di Lampung pada 06 Juli 2016, Just Ordinary Chit Chat..

Terjebak Cinta Sendiri
by Pipit Era Martina

Hey cinta, coba dengarkan kicauan burung itu, tidakkah kau dengar ia mendendangkan syair kerinduan?  Mengepakkan sayap hingga ke awan, melihatkan pada dunia bahwa ia cukup bahagia bersama senja. Tidakkah kau tahu bahwa aku malu? Malu pada senja yang sedari tadi menatap pilu. Mencaci ku dengan sinarnya, seakan tahu pasti disini aku tengah dilanda rindu.


Aku merindu tanpa kau tahu, aku mencinta tanpa kata, seolah cinta tak sudi dimiliki bersama. Timbul beribu tanya dalam dada, akankah cintaku bermuara? Melibatkan hati bukanlah mauku, menciptakan cinta, aku bukanlah ahlinya. Namun pada kenyatannya aku terjebak dalam lingkaran semu bernama cinta.

Bisakah kamu memandang bintang berkedip di malam hari? Tidakkah kamu lihat ia bersinar bersamaan? Jejakmu menjadi benderang karena cahayanya bukan? Dan tatapmu menjadi tak buram karena senyum darinya. Sedang aku? Disini meraba jejak cintamu yang tak kunjung kudapati. Benarkah hanya sendiri? Mencumbu bayangmu yang semu dan menafsirkan rasamu. Menyebalkan bukan?

Kamu tahu apa yang paling aku takutkan? Mencintamu dalam diam tanpa balasan, merasa aman denganmu namun tak kau hiraukan dan melabuhkan rasa namun tak pernah kau anggap nyata. Ohh Tuhan, inikah yang dinamakan cinta? Merasa mencinta namun tak dicinta, merasa rindu namun tak dirindu, merasa memiliki namun dianggap tak berarti.

Sapaan senja di sore hari mampu membius naluri, meremas rasa dengan hembusan pancarnya. Membuat detak sejenak menebak, mungkin hati begitu lemah tak bernadi hingga mudah terjatuh dalam lubang emosi. Kau tahu? Kini hariku serasa tak berarti, bunga-bunga emosi menguasai diri, hanya denganmulah ketenangan ini mampu kudapati. Tidakkah kau sadari?

Lubang cemburu ini kian menjadi, hingga tak sanggup kuatasi lagi. Namun apa daya, nadikupun tak sudi lagi membantu hati ‘tuk mengontrol imajinasi. Dapatkah kau pertanggung jawabkan semua ini? Sedang bayangmu selalu hadir tanpa kupinta dan kata-katamu kian menggema di pelataran telingaku. Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Ketika hujan tak lagi menyejukkan, baru kusadari ternyata hatiku telah mati terpatri oleh bayang-bayangmu.  Ketika embun tak lagi membasahi baru kutahu cintamu tak pernah nyata untuk ku. Terjebak dalam cinta sendiri cukup menyadarkan hati, bahwa cinta tak bisa sendiri. Kini, kupasrahkan diri, semoga suatu hari kau mengerti betapa aku mencinta belai kasihmu.

Malang, 31 Maret 2018

Jumat, 23 Maret 2018


Surat Kecil Untuk Jodoh
by Pipit Era Martina


      Hey kamu, iya kamu. Kamu yang kelak akan menemani tangis dan tawaku, sedang apa disana? Masihkah merinduku dalam do’a? Masihkah merapalkan wujudku dalam bayang? Jika iya, coba kau tatap langit dan bicara padanya, agar awan mau menuntunmu menemuiku.

Kau tahu? Aku disini selalu melukismu dalam angan, menafsirkan kelembutanmu dan menerjemahkan rasamu. Berharap bintang membisikkan kata bahwa imajinasiku benar tentangmu. Kamu yang terlukis indah dengan kesederhanaan namun kaya akan kelembutan, kamu yang tampak elok dengan iman yang kau genggam. Sungguh, imajinasi tentangmu memenuhi ruang khayalku.

Diksiku seakan melayang jauh ke angkasa, menerbangkan cinta yang lama terpendam dalam raga. Akankah angin sampaikan padamu? betapa aku merindu wujudmu. Maaf jika khayalku teramat tinggi tentangmu, bukan aku inginkan kau bertokoh sempurna hanya saja aku haus akan rasa yang tak pernah kurasa nyata.

Bisikan angin malam yang menentramkan seakan memelukku dengan sejuta keyakinan bahwa anganku tentangmu itu nyata. Bahkan dedaunpun seolah mengiyakan tatapku, ia melambai beserta senyum yang menggembirakan. Kamu... Lihatlah ketika bulan mulai memberi cahaya, tidakkah kau lihat aku melambai rindu padamu?


Kau tahu siapa aku? Mungkin kau berpikir aku sosok yang sempurna hingga melukismu sedemikian rupa, tapi kau salah jika melintasi pemikiran itu. Aku hanyalah sosok sederhana dengan berjuta kekurangan dan tak terhitung keburukan. Yahh kebaikan yang kumiliki mungkin tak ada sebanding dengan ketulusanmu. Terlebih lagi soal iman, ahh aku begitu malu untuk mengutarakan bahwa imanku sangat lemah sekali.

Teruntuk  jodohku, kuharap kehadiranmu akan menghidupkan diksiku, meramunya menjadi sesuatu yang indah untuk terus di telusuri. Mampu menghidupkan cahaya di tengah kegelapan malam dan menuntunku pada jalan keindahan.

Suatu saat nanti di saat hatimu mulai tergerak menggapai jemariku, tolong jangan sekalinya kau regangkan. Genggam erat jemari dan hatiku, seburuk apapun mereka menilaiku tolong tetap berdiri disampingku dan percaya padaku. Serendah apapun mereka menjatuhkan, jangan pernah kau hempaskan jemari dan patahkan hati. Percayalah hanya padaku, karena mereka tak pernah benar-benar mengenalku.

Percayalah, aku menjaga diriku hanya untuk kuperkenalkan denganmu. Aku menjaga hatiku hanya ingin kupersembahkan teruntukmu, meski di masa lalu hatiku pernah singgah pada yang lain. Namun yakinlah, saat ini kuutuhkan hati hanya untuk melengkapimu dan mengapitmu dalam genggam erat cintaku.

Maaf jika membuatmu kecewa, t’lah meluluhkan bongkahan hati pada dia sebelum kamu. Bukan aku tak ingin menjaga, namun aku tak tahu siapa jodohku. Sedetikpun tak pernah kurelakan hatiku terbuai oleh orang lain selain kamu, namun faktanya takdir berkata lain. Kutemukan setitik cahaya pada liriknya, yang kupikir pelabuhan terakhirku.

Dalam hati menjerit pilu, membayangkan rautmu semu melempar kecewa. Kuharap bintang kan membantuku luluhkan hatimu, hingga kau ikhlaskan setitik hatiku yang t’lah terbuai sebelumnya. Ketika saat itu tiba kuingin masuk dalam tatapmu, tuk membuktikan keutuhan hati yang t’lah ku tata kembali.

Kamu... Cakapku mungkin tak mulia, akhlakku mungkin belum berbunga, akan tetapi yakinilah cintaku bermekaran bagai sakura di pelataran hatimu. Wujudku memang jauh dari kata sempurna, tapi percayalah cinta yang kuramu lebih dari kata sempurna untuk menyempurnakan rasamu.

Teruntuk jodohku, bacalah hatiku dengan segenap rindumu, terjemahkan anganku dengan ketulusanmu dan tafsirkan tuturku dengan segala ketabahanmu. Ku harap kelak kamu kan mengerti sejauh mana aku merangkaimu, seluas mana aku menggambarkanmu dan setinggi apa aku mengharapmu.

Malang, Rabu 23 Maret 2018

Rabu, 21 Maret 2018

Tuhan, Izinkan Aku Jomblo
by Pipit Era Martina

You know? Jomblo itu terhormat, jomblo itu sehat dan membuatmu terlihat hebat. Why? Karena kamu mampu berjalan sendiri di keramaian dan menunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa tanpa sosok dia. Sejatinya, jomblo itu nggak nurunin harga kehebatan kamu ko. Justru menaikkan harga jiwamu yang utuh tertata rapi dalam penantian.

Aku tahu, mengelakkan rasa itu bukan perkara mudah, butuh usaha yang keras untuk mengalihkannya menjadi motivasi. Dalam hati akupun ingin menjerit, mengatakan pada awan bahwa aku jatuh hati. Tapi apalah daya, tekadku tak’kan ku ganggu gugat, mewujudkan harap menyempurnakan diri dengan kesendirian. Mengutuhkan hati hanya untuk dia yang tertulis dalam takdirku.


Aku hanyalah manusia biasa yang miliki sejuta rasa dalam jiwa, memaksanya untuk memenjarakan cinta tak semudah katak berpindah tempat. Haruskah aku menutup mata dan telinga dari teriakan kata hati sendiri? Atau memutuskan rasa agar tak terjerumus kedalamnya?

Tuhan, izinkan aku jomblo. Karena seutuhnya diriku ingin kupersembahkan hanya untuk dia yang kini kau jaga apik dalam penantian. Kukuhkan hatiku dalam perjuangan, menyimpan cinta yang tak seharusnya bermuara belum pada waktunya. Dalam hening sujudku, ku meminta agar hatiku tak tergoyah oleh rayuan cinta yang kian menggema dalam dada, yang mencegah mata memandang jauh ke depan.

Tuhan, aku mengerti akan rasa yang kian menggonggong, namun izinkan aku untuk menghantamnya jauh dari pandangan. Bukan aku tak ingin, namun harapku terlalu indah untuk tergoyah hanya karena sebuah rasa yang aku sendiri tak mampu menafsirkannya.

Menerjemahkan anganku butuhkan tenaga yang tak biasa, mana mungkin ku patahkan dengan rasa yang masih semu penuh imajinasi. Menghempas jabat cinta memang menyakitkan, namun dayakupun tak tergerak untuk menerima dengan senyuman. Sanggupkah hati memaksa cinta dengan tekanan? Kurasa itu lebih menyakitkan.

Tuhan, satu pintaku. Bentangkan harapku hingga mampu menutupi rasa cinta yang belum pasti, luaskan tatapku hingga tak kulihat lagi bayang semu yang menghantui dan tuntun aku pada anganku, yang menjadikan langkahku tak tersesat karena cinta yang belum nyata.

Aku ingin sendiri bukan berarti hatiku mati, melainkan karena inginkan hatiku tertata rapi layaknya cinta sejati. Bukan berarti gema cintaku membisu yang membiarkanmu berhamburan di depanku, melainkan ku inginkan bisik syahdu menentramkan hati hanya teruntuk kekasih hati dan bukan pula rasaku tak’kan menjelma, namun rasa ini kan ku wujudkan dalam do’a dan bahagia yang nyata.

Tuhan, izinkan aku jomblo untuk saat ini saja, setidaknya sampai harapku menjadi nyata dan bahagiaku bermekaran hingga dengan sendirinya menerbitkan rasa berwajah cinta.

Malang, Selasa 21 maret 2018

Assalamu’alaikum Rindu
by Pipit Era Martina

Pagi yang berselimut embun serta sore yang bercumbu dengan senja membuatku bertanya akan seucap kata ‘rindu’. Bolehkah aku menyapanya? Bolehkah aku mendekat dan memeluknya erat? Di antara hujan yang terus membasahi dedaunan, aku kian meratap. Melukiskan kerinduan dalam angan, hingga mencoba menyemayamkannya dalam pelukan. Ahh, sebuah kata yang memaksaku dewasa.

          Pagiku selalu sama, disambut embun yang seolah menari bersama bunga yang bermekaran, yang seakan menertawai harapku. Terkadang aku malu pada belaian embun, seakan kudengar embun berkata kencang “mengapa masih kau genggam rindu tanpa ungkapan? Bangunlah manis, rindumu kan segera datang”.

          Bolehkah aku berbicara pada angin dan menitipkan rindu? Bolehkah aku terbang bersamanya dan memeluk rindu? Hingga jiwa tak lagi berkecamuk memperolok rindu yang tak kunjung temu harapku. Sungguh meluluhkan hati, mengukir rindu dalam lembar qalbu dan mencoretkan ribuan kata yang tak kunjung terpecahkan.

          Seperti barisan kata sederhana namun penuh makna, ya itulah rindu. Yang berhasil mencumbu qalbu dengan beribu rayuan semu, menutup mata dan telinga serta mebutakan jejak. Namun sayang, rindu yang ku teriakan kencang hanya melengking keras di telingaku.






           Assalamu’alaikum rindu, selamat datang di perhentian hati yang terkunci. Membuatmu tertahan lama disini. Namun lengking suaraku nyatanya tak kuasa mengolesmu dalam tutur kataku. Rindu, izinkan aku memenjarakanmu dalam genggaman jemari, hingga tiba waktunya  bayang anganku tak lagi semu.


          Sepenggal rindu terkadang membuatku tersipu. Bagaimana bisa rindu yang tak pernah kutemui mampu menggema kuat dalam degup jantungku? Seakan meruntuhkan pertahan nadiku. Ahh, rasanya ingin menenggelamkan wajah pada hujan agar tak ada yang tahu bahwa rindu ini nyaris menguasaiku.

          Cukup aku dan hatiku yang tahu betapa aku merasa rindu ini kian hebat berakrobat. Rindu yang selalu meraung-raung nyatanya hanya nyaring di telingaku saja. Rindu macam apa ini? Hatiku terus memaksa menggambarkanmu nyata, namun jemari masih saja bertekuk pada bayangmu.

          Rindu, bolehkah kau tampakkan wujudmu? Sekali saja, setidaknya membuyarkan pikir tentangmu yang semu. Rindu, Ajak aku berbincang sekali saja, biarkan aku tahu bahwa kamu pantas merobohkan hatiku. Rindu, izinkan aku memelukmu sedetik saja, agar gema jantungku mereda dan percaya bahwa kamu pantas menyita anganku. Rindu, bisakah kau jelaskan mengapa kamu hanya hidup dalam kotak khayalku? Tak bisakah kau menjelma dan mebuatku bahagia?

          Assalamu’alaikum rindu, meski terngiang semu aku sungguh ingin menyapamu. Entahlah, aku masih saja merindumu meski tahu kau hanya imajinasi belaka. Bisakah aku bercerai dengan kata rindu? Sulit bukan? baiklah, kan kubiarkan saja rindu ini terus menggebu hingga tiba saatnya rindu ini benar-benar bermuara dalam lautan cinta. Bukan hanya diksi yang menyelimuti imajinasi dan bukan hanya khayal tak bermoral.

Kataku tak’kan pernah habis untuk menceritakanmu dan lidahku kan terus berlaju memujimu. Dengan segenap imajinasi aku menunggumu duhai rindu, menunggu dekap nyatamu dalam hidupku dan menunggu sapamu yang mempesona.

Malang, Selasa 21 Maret 2018

Selasa, 20 Maret 2018



Antara Takut dan Cinta
By: Pipit Era Martina



  
Semudah petani memetik padi, semudah itupula cinta tumbuh dan bersemi. Menggerogoti relung hati tanpa permisi, mengecohkan tatapan membuyarkan harapan. Dan ketika bayang takut mulai menghadang, disaat itu pula seolah gerak terpaku pada satu waktu dan  memutus rasa tanpa kata.

Duhai hati yang telah menunggu Cinta pasti, disini kucoba lambungkan kata maaf yang tak berjumlah. Membuatmu menunggu bukanlah mauku, membuatmu gundah bukanlah harapku, namun takut menyelimuti qalbu.

Takut akan cinta yang menyanjung sakit, takut akan runtuhnya jiwa saat berjumpa cinta dan takut akan cinta yang semu tak nyata.Mencoba mengukuhkan hati yang sesaat mati ternyata tak semudah memetik padi.

Disini, kucoba memahami hati yang masih terkunci, meyakinkan diri akan sebuah rasa yang telah terukir indah di atas sajadah. Semarak hati mencoba kalahkan bimbang, namun ciptakan cinta tak semudah melambungkan kata. Hati ini menjerit menangisi keadaan, membelenggu rasa dengan ketakutan, memenjarakan cinta dalam angan yang tak kunjung temui kejelasan.

Di sepertiga malam kucoba  merayu sang pemilik cinta untuk mengukuhkan hati, memusatkan pikiran hanya tentang kesetiaan serta melukiskan bayang-bayang elok dalam angan masa depan. Memecahkan teka-teki hati yang pernah patah rupanya tak semudah memetik melati. Menebarkan sebuah nama pada semesta mungkin mudah, namun melekatkan dalam hati miliki kesulitan yang tak mudah tuk di atasi.

Teringat satu ucap, dimana kelebihan  menyempurnakan kekurangan. Seketika itu jantung berhenti berdetak,semua kata bagai hilang di telan berjuta angan. Sedetik semua berubah menjadi  manis, senyum simpul tergerak tanpa sadar, degup kencang kembali meramaikan hati, ingin rasanya melangitkan suara saat itu juga. Apakah ini nyata? Atau lagi-lagi hanya angan dalam bayang.

Antara takut dan cinta seolah berlomba memenangkan hati. Di satu sisi mendamba hati yang berselimut cinta namun di sisi lain ketakutan akan hancurnnya sebuah harap menganga di depan mata. Timbul tanya dalam rasa, adakah cinta tanpa takut? Mungkinkah cinta diizinkan bersemi tanpa rapuh?

Sekedar angan kecil, akan ada kamu yang membawa rasa bermutiara tulus, menghapus semu dengan halus. Merobohkan takut dengan tegas dan menghanyutkan bimbang dengan tenang, rasa yang benar-benar nyata, bukan sekedar nafsu belaka. Meyakinkan akan adanya kesempurnaan cinta dan ketulusan hati tanpa ada yang tersakiti.

Teruntuk Aku & Kamu, semoga takut yang mengiringi cinta mampu menembus cakrawala, memecah rasa dan menyemayamkan hati bersama mentari. Hingga cinta benar-benar hadir tanpa takut dan berjuta keraguan, melainkan bergelimang ketulusan dan ribuan senyum kebahagiaan.

Malang, Selasa 21 Maret 2018

Senin, 20 Februari 2017

GARA-GARA DISCOUNT
(Kisah true story, hijrah yang tak di sengaja)
Oleh : Pipit Era Martina

Berawal dari keisengan yang bermula karena kekesalan, Allah menunjukkan jalan untuk saya melangkah sedikit lebih baik. Ya, saya memutuskan untuk mengenakan pakaian serta jilbab yang lebar. Bukan karena keinginan, melainkan bermula dari kekesalan. Kekesalan apa? Kekesalan karena sering kali mendapat nasihat yang hampir selalu senada dari seorang akhwat mengenai jilbab yang saya kenakan. Jilbab yang modis penuh dengan accesories, penuh dengan gaya dan jarum tentunya. Entah angin apa yang membuat dia tak pernah lelah memberi sedikit demi sedikit penjelasan tentang jilbab yang sebenarnya. “Yuk Ukhty, pelan-pelan pakai jilbabnya jangan di lilit-lilit yah” nasehatnya melalui inbox facebook. “Na’am ukhty, InsyaAllah” jawabku dengan sedikit bergumam dalam hati, “Itu kan cantik, kenapa musti di rubah. Itu kan modis, ah dia nggak tahu mode kali yah”.

Tepatnya bulan Ramadhan tahun 2014, mendekati kesibukan menjelang hari raya Allah beri celah menuju hijrah melalui discount hijab syar’i yang terpampang di beranda facebook. Entah kebetulan atau mungkin sudah takdir Tuhan, akun tersebut berada di paling atas beranda. Sedikit menaruh ketertarikan dengan discount yang di tawarkan, akhirnya saya order jilbab dengan ukuran super, 150 x 150. Tak mudah bagi saya merubah model hijab dari lilitan menjadi lipatan, melebarkan hijab yang sebelumnya nyaris membentuk lekuk tubuh serta merubah gaya berpakaian menjadi ala-ala wanita muslimah yang senantiasa memakai gamis dan meninggalkan pemakaian celana.

Santunan anak yatim yang di adakan pada penghjung bulan Ramadhan tak pernah di sangka akan menghadirkan sebuah kenyamanan dalam diri. Dengan bersusah payah mengenakan jilbab yang kata orang lebih mirip ‘Alas meja’ itu, ternyata berbuah manis. Banyak di antara sahabat yang bilang “Kamu terlihat indah dengannya”. Jilbab hitam polos dengan ukuran 150 x 150 itu terpasang sedikit berantakan namun mengesankan bagi yang melihatnya dan tanpa mereka tahu, bahwa itu begitu menentramkan dan terasa begitu nyaman di kenakan.

Orang tua yang merasa heran, serta adik yang justru bergurau dengan jilbab yang kemudian ia kenakan sebagai selimut, tidak sama sekali menyinggung perihal perubahan yang nyaris 180⁰. Hanya saja pandangan terkejut yang nyata terlihat di masing-masing wajah mereka. Keanggunan yang tiba-tiba terpancar dari sudut jilbab syar’i yang saya kenakan membuat hati semakin yakin untuk merubah penampilan menjadi lebih tertutup.

Ternyata kenyamanan dan ketentraman yang saya rasakan tidak berlangsung dengan baik, begitu banyak hal yang harus di telan ketika memutuskan untuk mengenakan ‘Hijab syar’i’. “Akhlakmu saja belum baik, kenapa sudah berani pakai hijab syar’i?”, sedih sudah pasti dan rasa ingin kembali seperti dulupun muncul. Tapi ternyata Allah tidak mengizinkan hal itu terjadi, seorang teman yang lainnya datang dan mengatakan bahwa akhlak dan hijab adalah dua hal yang berbeda, jangan dengarkan mereka dan tetap pada niat utama. Merubah insan menjadi wanita yang selangkah lebih baik.

“Kamu masih gadis loh, klo pake jilbab jangan kegedean”, ada apa dengan gadis dan hijab syar’i? Menurut sebagian teman, dengan saya merubah penampilan menjadi syar’i akan berpengaruh dengan pandangan dan rasa enggan mereka untuk mendekati, terutama kaum lelaki. Menurutnya, wanita dengan penampilan yang sedikit syar’i akan membuat saya kesulitan dalam mendapatkan jodoh. Entah apa yang menjadi landasan mereka berpikiran seperti itu, padahal kala itu, salah satu alasan saya  untuk berhijab syar’i adalah untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik, yang bisa membimbing saya dalam kebaikan serta mengantarkan saya kepada surga-Nya.Ya, nampak jelas sekali tergambar di raut wajah mereka, sedikit menaruh kecewa dengan perubahan yang tiba-tiba dan dengan alasan tak jelas. Seolah mereka mengatakan bahwa mereka tidak rela kalau saya yang bermodis dengan jilbab tak pernah simple itu berubah menjadi wanita dengan hijab monoton dengan gaya itu, itu, dan itu lagi.

Entah berapa kali bathin ini menangis karena ucapan yang begitu menyakitkan, namun Allah tak pernah membiarkan saya terlunta-lunta dalam genangan air mata. Setiap kali ada ucapan yang menyakitkan, saat itu pula datang ucapan yang menentramkan. Inilah sebabnya saya bertahan dengan hijab yang saya kenakan sampai saat ini.

Tidak mudah merubah statement orang terhadap apa yang kita lakukan, karena tak semua orang mau mendengarkan penjelasan dan alasan yang akan kita utarakan. Sebagian orang hanya menilai dari apa yang mereka lihat tanpa ingin tahu alasan di balik itu semua. Pernah sekali saya mengenakn hijab warna hitam, dan saat itu ada orang yang berucap bahwa saya sudah termakan oleh omongan teman yang menganut aliran ISIS. Sedih, tapi mau bagaimana lagi? Membantahpun serasa tak memiliki penjelasan yang cukup kuat untuk menentangnya, karena alasan saya mengenakan hijabpun sedikit tidak masuk akal. Pada saat itu hanya Allah dan wanita-wanita hebat yang bisa memahami apa yang saya alami.

Salah satu hal yang membuat saya kian menancapkan keikhasan dalam berhijab, yakni dunia luar. Mata liar yang ada di luar sana begitu mengerikan, kejahatan terhadap wanita bukan lagi hal yang baru. Sebelum saya mengenakan hijab syar’i, saya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh, menyapu wajah dengan riasan yang mencolok dan dengan balutan jilbab modis dengan trend masa kini, sungguh menjamu mata para lelaki. Apa yang saya rasakan pada saat itu? Rasa bahagia karena merasa cantik ketika berjalan sudah pasti, tapi ada sedikit rasa kekhawatiran yang menyelimuti ketika berada dalam perjalanan. Ketika melewati sekerumpulan lelaki, entah kenapa hati ini merasa ada ancaman bahaya dan merasa kesal jika beberapa dari mereka mulai menggoda, meski sudah jelas, mereka seperti itu bermula dari pesona yang dibuat oleh wanita itu sendiri.

Semua berubah ketika saya menanggalkan pakaian sexy, rasa cemas yang selama itu menemani berubah menjadi rasa nyaman. Jika dulu berjalan di antara para lelaki merasa cemas, namun kini saya bisa tersenyum tenang ketika melewati mereka. Sungguh begitu besar pengaruh hijab dalam kehidupan saya. Kini, mereka terlhat menaruh rasa sungkan untuk sekedar menyapa, sedang dulu tiada rasa sopan sama sekali untuk menggoda atau bahkan menuliskan niat jahat dalam benak mereka. Saya bahagia ketika dalam perjalanan, mereka menundukkan kepala dengan ramah serta memanggil saya dengan sebutan ‘Ibu’. Sebagian wanita muda mungkin merasa tersinggung bahkan kesal ketika di panggil ‘Ibu’, tapi tidak bagi saya. Justru menjadi satu tongkat keamanan bagi saya, dimana mereka menaruh setidaknya sedikit rasa sopan dan enggan untuk sekedar menyapa. Alhamdulillah, sebutir pengalaman yang saya alami sejak mengenkan hijab syar’i sungguh luar biasa. Meski saya akui, sampai saat ini ilmu perihal Islam yang saya miliki belumlah sesuai dengan pakaian yang saya kenakan. Hijab adalah kewajiban, dan sekarang ini saya sedang berusaha untuk meluruskan niat berhijab dengan benar serta memperbaiki akhlak yang masih jauh dari kata baik.

Tak perlu takut akan kehilangan teman hanya karena diri merubah versi jilbab menjadi hijab, gaya lilit menjadi lipat dan trendi menjadi syar’i, karena Allah selalu ada dan teman yang seirama dengan kita itu lebih banyak dari apa yang kita tahu. Berhijab tak perlu menunggu hidayah datang, karena hakikatnya kita yang menjemput hidayah, bukan hidayah yang menghampiri. Jangan menunggu tua untuk berhijab, karena usia tiada yang tahu. Tak perlu menunggu menikah untuk menutup aurat, karena belum tentu jodoh mendahului maut. Dan jangan pula menunda hijab dengan dalih belum siap, karena mati tak pernah menunggu kita siap.

Sekian cuplikan kisah yang mengiringi perjalan hijrah saya, semoga bisa menginspirasi. Niat baik tak selalu diiringi dengan senyuman, terkadang tangisan justru menjadi jembatan menuju tawa bahagia.

Bandar Lampung, Selasa, 25 Oktober 2016



Minggu, 12 Juni 2016

Di Sini, Aku Memantaskan Diri
Oleh : Pipit Era Martina

Dari hati yang kini masih sendiri, jiwa yang saat ini masih terkunci dan cinta yang hingga kini belum jua bermuara.  Izinkan aku bercerita tentang diri yang masih mengunci hati dan enggan membuka kesempatan. Bukan karena tak ingin merasakan cinta yang mereka ceritakan. Bukan pula karena buta akan sebuah rasa. Hanya saja, aku ingin sepenuhnya menjaga. Karena citaku, memberikan cinta yang utuh hanya untukmu. Kamu, yang kini tengah berjuang melintasi jalan penghubung. Melalui aral melintang yang kian membentang. Memperjuangkan iman agar kelak mampu menjadi imam.

Di sini aku bertahan sendiri. Membenahi hati, memantaskan diri, menguatkan jiwa. Mengukuhkan 
raga, memperdalam agama dan yang pasti berjuang menuju gelar shaleha. Aku bukan siapa-siapa yang pantas untuk dibanggakan. Pun, bukan wanita yang lahir dari rahim ketaatan. Hanya seorang wanita yang buta akan indahnya agama, tuli akan syahdu gema cinta-Nya. Buntu akan sempurna alam kasih-Nya dan bisu untuk melukiskan cinta-Nya dalam sebuah kata.

Akan tetapi, wahai kamu yang namanya telah terukir indah di selembar takdirku. Percayalah, bahwa aku terus berusaha memperbaiki segalanya. Membenahi agama yang sementara ini belum jua kupahami sepenuhnya. Mencoba memantaskan diri bersanding denganmu, yang kuyakini penuh dengan balutan ilmu, kaya akan cinta-Nya jua taat dengan perintah-Nya.

Berdo’alah untukku selalu, agar hati ini tetap terkunci. Hingga tiba waktunya kamu datang menghampiri. Agar jiwa ini tetap bertahan dalam belenggu sepi sampai pada masanya kamu hadir menghiasi. Agar cinta ini terus terjaga hingga tiba cintamu hadir dengan untaian kata di depan orang tua. Tetaplah bertahan dalam penantian, tunggu hingga aku pantas bersanding denganmu dalam satu pelaminan.

Pun, aku di sini terus berdo’a agar cinta yang selama ini terjaga akan berlabuh pada muara yang tepat. Pada ikatan suci yang diakui dan jatuh pada hati yang suci. Agar hati yang selama ini dijaga, mampu menuntun kita menuju pernikahan yang sakinah penuh berkah dalam naungan ridha-Nya. Jangan pernah lelah dalam berdo’a, karena tanpa-Nya tiadalah mungkin cinta ini menyatu. Usah risau, aku di sini terus berjuang memantaskan diri dan tetap bertahan dalam penantian. Semoga Allah indahkan cita yang selama ini kulambungkan lalui do’a.

Lampung, 12 Juni 2016 

Kamis, 09 Juni 2016

Mendamba Shalehah (Perjalanan menuju hijab syar’i)
Oleh :Pipit Era Martina



Bukan jalan yang mudah untuk mencapai perubahan hingga ke titik yang paling tinggi. Merubah pribadi jauh dari diri sendiri. Merubah apa yang telah di genggam selama ini. Proses yang lalui beribu rintangan dan cercaan.

Gadis desa dengan latar belakang yang jauh dari kata sempurna, begitu lugu dan sangat sederhana. yang hidup di pelataran desa pedalaman dan tak pernah menyangka bahwa kehidupan yang akan ia temui seindah hari ini. senyuman yang dulu selalu ia dambakan, kini sukses temani hari-harinya.
Yah, itu aku. Si gadis desa dengan sejuta kenakalan, yang sebagian orang pandang tak memiliki masa depan. Bagaimana tidak? Sejak berusia 9 tahun, hidupku di tanggung nenek dan kakek. Pada masa itu, orang tua yang bekerja sebagai petani kopi dan lada tengah berusaha membangkitkan usaha yang sempat terpuruk akibat sebuah kelalaian. Dari situlah, kebebasan serasa ada dalam genggaman, amarah dari sang nenek tak pernah ku perdulikan, bahkan tak jarang ucapannya pun ku tentang. Yah itulah aku, si gadis nakal yang tak pernah mau menuruti perintah, karena bagiku perintahnya adalah kemauanku.

Bukan di kota, melainkan di desa. Desa yang penuh dengan lahan pertanian dan masih di selimuti dengan pegunungan. Bisa di bayangkan, aku seorang anak wanita yang bisa dikatakan ‘anak mama’ seketika berubah menjadi anak yang begitu ‘pecicilan’. Nakal dalam hal anak-anak, menyebrangi sungai besar tanpa pengaman, mendaki gunung, hingga menyusuri perkebunan hingga ke ujung yang entah. Dan pada masa itu seorang aku lekat dengan penampilan yang 80% menyerupai laki-laki, dan kesemuanya itu tanpa sepengetahuan orang tua, sedangkan nenek dan kakek hanya bisa diam tanpa marah, bukan karena mereka setuju, melainkan karena mereka lelah bicara.

Geleng-geleng, sanak saudara yang tak habis pikir dengan tingkah laku yang 180° berbeda dengan sifat mama yang terkesan feminim dan manis. Namun begitu, meski penampilan yang tak sewajarnya dan acap kali menentang perkataan orang yang lebih dewasa, aku bukanlah anak yang tak ‘peka’. Sering kali mereka berbisik, “Mau jadi apa anak itu nanti?”. Sedih? Tentu, anak mana yang tak luka, ketika perkataan tajam menohok bathinnya. Penampilan yang tomboy bukan berarti diri ini kuat dan tak menghiraukan ucapan, justru lebih lemah dari yang terlihat dan lebih rapuh dari yang orang sangka.

Tak pernah terfikir untuk merubah diri menjadi wanita sejati, yang lekat dengan busana anggun nan mempesona, bermuka manis dan feminim. Meski sering kali di libatkan dalam kegiatan yang melibatkan wanita-wanita anggun, namun tak sedikitpun memberi pengaruh atapun mencetuskan pemikiran untuk merubah diri dan mengikuti gaya mereka. hanya seketika, merubah diri menjadi anggun  lengkap dengan busana syar’i dan jilbab yang menjuntai, hanya demi sebuah penampilan. Selebihnya, di tanggalkan begitu saja.

Tak kunjung berubah, masa-masa menginjak remaja justru kian menggila. Lebih suka berkelahi dan melanggar peraturan sekolah. Mengikuti kegiatan sekolah tanpa kenal lelah, berpenampilan ala-ala preman yang sulit dibayangkan untuk saat ini. menjadi murid kesayangan karena kenakalannya, menjadi siswi terkenal karena kehebohannya membuat ulah dan menjadi sahabat tiang bendera, karena sering kali berjemur di sampingnya. Mentaati peraturan begitu mengesalkan pada masa itu, pakaian yang rapi sengaja di rombak tak sopan, lengan di pendekkan dan rok di kecilkan, entah apa yang kala itu terpikirkan.

Hingga tiba masa dimana kelulusan Sekolah Menengah Pertama kian mendekat, dan orang tua tak tahu harus menyekolahkan aku kemana, dengan keterbatasan biaya dan dengan beribu cercaan keluarga. Ada  mereka yang selalu berkata ‘tak mungkin’. Tak mungkin seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin bisa melanjutkan pendidikan.

Namun Allah berkehendak lain, Allah hidangkan dua pilihan yang nyata di depan mata, antara melanjutkan pendidikan negeri di SMA atau melanjutkan sekolah sederajat, yakni jurusan keperawatan. Waw, keperawatan itu mahal, mau dapat uang darimana? Memang orang tua kamu punya uang? Disana itu illegal? Bahaya kalau anak perempuan di kota sendirian. Memang kamu bisa jaga diri sendiri? Berjuta kata lewat di telinga tanpa permisi. Berjuta luka pun kian tertancap nyeri di hati ini, hanya air mata kesedihan yang temani sepi, ketika sepertiga malam menyapa keheningan.

Saat itulah, naluri keislaman muncul tanpa di pinta, menangis sesenggukan di atas sajadah yang ku bentang di tengah malam. Memuaskan hati, mencurahkan kekesalan pada diri sendiri dan nasib yang dirasa tak pernah berpihak. Dalam benak sungguh bergejolak, memantapkan hati melanjutkan study keperawatan, tapi di sisi lain? Apakah iya orang tua ku mampu? Apakah mungkin aku bisa? Seperti mustahil dan sulit untuk di capai. Hingga di ujung keheningan dengan berat hati aku berkata pada Tuhan, “Aku mau SMA”.

Namun lagi-lagi takdir Allah berkata lain, dengan kemantapan dan kesungguhan, “Lanjutkan! papa yang membiayai pendidikanmu, bukan mereka. Dan yang membangkitkanmu itu diri sendiri bukan ucapan mereka”, ucap papa dengan tegasnya yang berhasil menembus pertahanan air mata yang sedari semalam tak henti mengalir.
Dengan langkah kaki yang mantap dan hati yang terus berusaha kuat, berjalan menuju kota pendidikan. Melupakan acara perpisahan sekolah dan mengabaikan ucapan-ucapan sadis para mereka. ini aku dan kemampuan orang tuaku, aku berjalan dengan kaki sendiri, melangkah dengan hati yang pasti. Bukan karena kalian aku melangkah, bukan karena dendam aku berdiam, melainkan tengah menata hati, memfokskan tuju, meraih senyum orang tua yang hakiki.

Tak semudah seperti apa yang ada dalam angan, tak seindah seperti yang sudah terbayangkan. Dunia kota jauh berbeda dan dunia asrama sungguh tak menyenangkan. Bagaimana tidak, kesemuanya tentang wanita dan feminim jadi ciri khas mereka, sungguh tak lagi kutemukan teman sepermainan preman. Tak lagi ku temukan gunung untuk di daki dan tak lagi kulihat sungai untuk di sebrangi. Semua tentang wanita dan kebersamaan feminim.

Namun disinilah titik awal mula aku berjumpa dengan dunia wanita, wanita yang penuh dengan gaya, cerita dan juga sejuta cinta. Perlahan merubah diri menjadi sosok wanita sejati, mengikuti fashion ala wanita dewasa, bergaya ala Cinderella dan melangkah bak primadona. Semua terjadi begitu saja, dan seiring jalannya waktu, hati ini mulai menyukai kain penutup kepala. Meski ragu, tapi aku mau. Mencoba mengenakan penutup kepala dengan gaya rotasi. Benar! Gaya memutar setiap ujung kain dan memainkannya sedemikian rupa hingga membentuk sesuai selera.
Ketika itu, islam yang kutahu hanyalah symbol keagamaan. Bukan sebagai pacuan apalagi pedoman, Al-Qur’an hanyalah sebuah mushaf kecil yang dibaca ketika waktu-waktu tertentu. Mulus, dan bersih karena hampir tak pernah ku sentuh, kecuali membaca surah yaasiin.

Penutup kepalapun hanya kupakai ketika kuliah dan pada satu waktu kembali menjadi wanita yang banyak gaya. Meski di kota dan di kelilingi teman wanita, ternyata tidak banyak merubah sikap kejahilan serta kenakalan yang telah tertanam sejak kecil. Namun anehnya, di dunia keperawatan jiwa ini serasa menyatu, tak pernah sekalipun aku melalaikan tugas, terus dan terus mencari tahu dan bahkan ingin segera melanjutkan ke jenjang jalur pendidikan kesehatan yang lebih tinggi lagi.
Satu tahun, masa pendidikan yang singkat telah usai ku tempuh di dalam ruang lingkup dunia keperawatan. Pribadi yang belum juga menunjukkan perubahan yang berarti, justru tertanam sifat yang Allah benci mulai muncul.  Sifat tamak dan meninggikan diri sendiri mulai bersarang dan mengotori hati yang baru saja hendak mendaki cinta Illahi. Merasa bahwa diri ini mampu beranjak dari keterpurukan anak desa, merasa bahwa jaya dengan sekolah di kota dengan mengenakan seragam putih-putih.

Tak pernah terlintas ataupun terpikirkan bahwa di luar sana masih banyak orang yang lebih jaya dan lebih berarti dari diri ini. Yang kutahu pada saat itu hanyalah bagaimana cara membanggakan seragam yang kini lekat di badan, meski kesuksesan belumlah di mulai. Berselancar di dunia maya mulai ku gandrungi dan merasa kecanduan disana, temui teman baru tanpa pandang bulu dan jadikan tempat curahkan keisengan.

Di titik ini, belum jua ada keinginan yang mendewasakan, masih berpikir bahwa aku bisa tanpa Islam, dan Islam hanyalah symbol keagamaan yang tak begitu penting untuk di pahami dan di telaah lebih dalam lagi. Akan tetapi, penutup kepala ini sudah mulai nyaman untuk di kenakan. Sedikit ucap dalam hati bahwa aku ingin memakainya selalu. Dunia kenakalan yang kekanak-kanakkan perlahan sirna seiring diri ini terjun di dunia keperawatan di sebuah klinik di kota kecil.

Masih dengan kebosanan mendengar khutbah, masih enggan menyenandungkan Al-Qur’an dan masih tak kunjung terketuk hati ini dengan keindahan Islam yang banyak orang bicarakan. Bagiku Islam itu fleksible, tak perlu meruntut memenuhi segala kewajibannya, hanya perlu berbuat baik terhadap sesama dan berpakaian sopan. Cukup tanpa banyaknya deretan penjabaran perintah dan larangan.

Agamaku Islam sejak lahir, dengan hanya berbekal ucap lisan sang ibunda yang pada dasarnya minim soal Islam, aku melangkah sejauh ini masih tanpa tatap cinta-Nya, masih dengan kebutaan hati yang tertutupi oleh kepuasan diri. Meski dalam hati menyadari satu hal, ‘Aku manusia’ yang hanya akan kembali pada-Nya.

Lalu akankah hati ini luluh dan mencinta Islam sebagai penyempurna Iman? Tentu. Mencinta Islam secara sempurna, mendamba surga dan merindu husnul khatimah. Terus berusaha istiqamah, terus berlari mengejar Islam yang selama ini terabaikan dan kian menjaga kekokohan Iman yang mulai tumbuh dalam keheningan qalbu.

***

Lampung, 09 Juni 2016